Abstract:
Produksi ayam broiler merupakan salah satu sektor peternakan yang
berperan penting dalam pemenuhan kebutuhan protein hewani masyarakat. Salah
satu hal terpenting dalam memenuhi kebutuhan protein hewani yang banyak
digemari masyarakat dan memiliki kandungan protein yang tinggi adalah daging
ayam. Keberhasilan pemeliharaan ayam broiler sangat dipengaruhi oleh sistem
pemeliharaan, beberapa diantaranya mengenai penggunaan metode sexing
(pemisahan ayam jantan dan betina) dan metode non sexing (tanpa pemisahan).
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan performa ayam dan
menganalisis keuangan dari kedua sistem pemeliharaan tersebut serta
menerapkan rencana bisnis berdasarkan temuan penelitian.
Metode penelitian yang digunakan adalah analisis deskriptif yang
digunakan untuk menganalisis data dengan cara menjelaskan atau
menggambarkan data yang telah dikumpulkan, tanpa membuat kesimpulan yang
bersifat umum. Data yang dikumpulkan meliputi aspek performa ayam broiler,
seperti bobot badan akhir, mortalitas, Feed Intake, FCR, dan IP, serta data
keuangan yang mencakup biaya operasional, pendapatan, dan total penerimaan
dalam satu periode produksi. Hasil penelitian dalam aspek performa yang
diperolehakan dianalisis dengan Uji perbedaan rata-rata tidak berpasangan (Uji-T
Independent).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa performa ayam broiler pada kandang
sexing menunjukkan hasil yang lebih baik dibandingkan non sexing. Bobot akhir
ayam sexing mencapai 2,381 kg/ekor (41 Hari) dan non-sexing sebesar 2,300
kg/ekor (43 hari). Tingkat mortalitas kandang sexing 6,77% dan non-sexing 7,88%.
Konsumsi pakan relatif sama, kandang sexing 4,026 kg/ekor dan non sexing 4,024
kg/ekor. Nilai FCR kandang sexing 1,69 dan non sexing 1,75. Indeks performa
kandang sexing 353 (sangat baik) dan non sexing 322 (cukup baik). Performa
unggul pada kandang sexing dipengaruhi oleh pemisahan jenis kelamin yang
memungkinkan manajemen ruang dan pakan lebih optimal. Secara finansial,
menunjukkan kandang sexing lebih menguntungkan dibandingkan kandang non
sexing. Nilai BEP harga kandang sexing lebih rendah Rp 18.421 dan non sexing
Rp 19.056. R/C dan B/C rasio pada kedua kandang menunjukkan usaha layak dan
menguntungkan. ROI kandang sexing lebih tinggi 8,85% dibandingkan non sexing
5,23%, menandakan pengembalian investasi yang lebih cepat. IOFC kandang
sexing sebesar Rp 15.807 juga lebih tinggi dari non sexing Rp 14.217,
menunjukkan efisiensi ekonomi tetap terjaga meskipun konsumsi pakan
meningkat.