Abstract:
Budidaya sapi perah merupakan sektor penting dalam pemenuhan
kebutuhan susu nasional, namun produksi dalam negeri masih belum mencukupi
sehingga impor masih dibutuhkan. Dua sistem budidaya yang berkembang adalah
sistem non organik dan organik, masing-masing dengan kelebihan dan
kekurangan. Sistem non organik umumnya lebih produktif namun bergantung pada
bahan kimia, sedangkan sistem organik lebih ramah lingkungan dan menekankan
kesejahteraan hewan. Kecamatan Tutur di Kabupaten Pasuruan merupakan
wilayah dengan populasi sapi perah tinggi yang telah menerapkan kedua sistem
budidaya tersebut, namun hingga kini belum ada data yang membandingkan
produktivitas dan biaya dari keduanya secara langsung. Penelitian ini dilakukan
untuk memberikan gambaran objektif mengenai perbandingan kedua sistem
budidaya sapi perah. Tujuan penelitian ini adalah 1) Menganalisis budidaya Sapi
perah organik dan sapi perah non organik di Kecamatan Tutur Kabupaten
Pasuruan, 2) Menganalisis perbandingan hasil produktivitas pada budidaya sapi
perah organik dan sapi perah non organik di Kecamatan Tutur Kabupaten
Pasuruan, 3) Menganalisis perbandingan biaya pada budidaya sapi perah organik
dan sapi perah non organik di Kecamatan Tutur Kabupaten Pasuruan, 4)
Menyusun rancangan penyuluhan tentang peningkatan pengetahuan peternak
terhadap perbandingan produktivitas serta biaya pada budidaya sapi perah
organik dan non organik di Kecamatan Tutur Kabupaten Pasuruan.
Penelitian ini dilakukan pada bulan Januari-Maret 2025. Penelitian ini
menggunakan metode surve dengan teknik pengumpulan data wawancara, dan
observasi. Populasi dalam penelitian ini yaitu sapi perah organik dan non organik
di Kecamatan Tutur Kabupaten Pasuruan. Penetapan sampel produktivitas dan
biaya pada penelitian ini menggunakan Purposive sampling, dengan kriteria 1)
Minimal laktasi ke-3 pada sapi perah organik dan non organik, 2) Sapi yang sudah
terkonversi organik sejak 2022, 3) Sapi perah yang tidak mempunyai riwayat
penyakit yang mempengaruhi produksi susu secara signifikan. Didapatkan sampel
berjumlah 25 ekor sapi untuk perbandingan produktivitas serta 1 farm organik dan
1 farm non organik untuk perbandingan biaya, dengan kriteria 1) Jumlah sapi yang
sama, 2) Luas lahan kandang yang sama, 3) Jumlah kepemilikan alat kandang
yang sama.
Berdasarkan hasil penelitian mengenai perbandingan produktivitas pada
budidaya sapi perah organik dan sapi perah non organik di Kecamatan Tutur,
Kabupaten Pasuruan, dapat disimpulkan bahwa sistem budidaya sapi perah
organik memiliki keunggulan dalam hal produktivitas dibandingkan sistem non
organik. Hal ini ditunjukkan dengan rata-rata produksi susu harian yang lebih tinggi
pada sapi organik di setiap periode laktasi, yaitu sebesar 13,3 liter (laktasi 1), 15,2
liter (laktasi 2), dan 17 liter (laktasi 3), sedangkan pada sistem non organik masingmasing
sebesar 12,7 liter, 14,8 liter, dan 16,2 liter. Meskipun secara statistik
melalui uji t pada laktasi 1 dan laktasi 2 tidak ditemukan perbedaan yang signifikan
(p > 0,05), namun pada laktasi ke-3 hasil uji t menunjukkan adanya perbedaan
yang signifikan secara statistik antara kedua sistem budidaya tersebut. Hasil
deskriptif juga menunjukkan tren produktivitas yang konsisten lebih tinggi pada
sistem organik. Selain itu, konversi dari sistem non organik ke organik menunjukkan peningkatan produktivitas rata-rata dari 13,5 liter menjadi 14,4 liter
per ekor per hari, meskipun perbedaan tersebut tidak signifikan secara statistik.
Dari sisi biaya, budidaya organik memiliki total pengeluaran yang lebih rendah
dibandingkan sistem non organik, terutama disebabkan oleh efisiensi penggunaan
konsentrat organik serta pakan tambahan dengan harga yang lebih efisien.