Abstract:
Tingginya kehilangan mutu cabai rawit pascapanen akibat susut bobot,
kerusakan fisik, dan penurunan kesegaran yang berdampak pada rendahnya nilai
jual produk. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh edible coating berbasis
pati kulit singkong dan okara terhadap mutu cabai rawit, mengevaluasi kelayakan
finansial penerapannya, serta menyusun model bisnis dan strategi diseminasi
inovasi.
Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan empat
perlakuan dan enam ulangan. Perlakuan terdiri atas kontrol (P1) dan tiga formulasi
edible coating (P2, P3, dan P4). Aplikasi dilakukan dengan metode pencelupan
(dip coating) dan penyimpanan selama tujuh hari pada suhu ruang. Parameter
yang diamati meliputi susut bobot, tingkat kerusakan, kekerasan, warna, aroma,
dan kilap permukaan. Data dianalisis menggunakan ANOVA dan uji lanjut DMRT
5%. Analisis ekonomi dilakukan menggunakan indikator PP, BEP, ROI, R/C Ratio,
B/C Ratio, dan HPP.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa edible coating berbasis pati kulit
singkong dan okara berpengaruh nyata terhadap susut bobot, tingkat kerusakan,
kekerasan, warna, dan kilap permukaan, tetapi tidak berpengaruh nyata terhadap
aroma. Perlakuan terbaik adalah P4 (pati 8 g, okara 2,5 g, gliserol 0,5 g, dan
sorbitol 0,5 g) dengan susut bobot 13,27%, tingkat kerusakan 4,23%, kekerasan
1,644 kgf, skor warna 16,83, kilap permukaan 3,84, dan aroma 3,99.
Dari aspek ekonomi, perlakuan P4 memberikan hasil paling layak dengan
PP 8 bulan, BEP harga Rp30.941/kg, BEP produksi 2.300 kg, ROI 13%, R/C Ratio
1,13, B/C Ratio 0,13, dan HPP Rp30.941/kg. Implementasi hasil penelitian
dilakukan melalui penyusunan Business Model Canvas usaha packing house
mikro “Vegebest” dan diseminasi melalui media TikTok. Seluruh konten yang
dipublikasikan berhasil melampaui target, yaitu lebih dari 5.000 tayangan, 500
likes, 19 komentar, dan 12 kali dibagikan. Penelitian menyimpulkan bahwa edible coating berbasis pati kulit singkong
dan okara efektif meningkatkan mutu pascapanen cabai rawit sekaligus layak
diterapkan secara ekonomis, dengan formulasi P4 sebagai perlakuan terbaik.
Penelitian selanjutnya disarankan mengembangkan formulasi yang mampu
mempertahankan aroma serta mengkaji metode aplikasi yang lebih efisien untuk
skala komersial.