Abstract:
Sapi perah merupakan sumber utama susu dengan kandungan nutrisi
penting, namun produksi susu di Jawa Timur mengalami penurunan akibat wabah
PMK, termasuk di Kecamatan Karangploso, Kabupaten Malang. Penurunan ini
diperparah oleh kurangnya regenerasi peternak muda dan rendahnya penerapan
praktik beternak yang baik. Untuk mengatasi hal tersebut, diperlukan penerapan
Good Dairy Farming Practices (GDFP) yang mencakup aspek kesehatan hewan,
nutrisi, kebersihan, kesejahteraan ternak, lingkungan, serta manajemen sosial
ekonomi. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan menganalisis penerapan GDFP
dan tingkat motivasi peternak di Kecamatan Karangploso serta memberikan
rekomendasi peningkatan praktik usaha melalui edukasi dan penyuluhan.
Penelitian ini dilakukan pada bulan Desember 2024-Februari 2025 di
Kecamatan Karangploso Kabupaten malang. Penelitian ini menggunakan metode
survei dengan pendekatan deskriptif kuantitatif. Instrumen utama berupa
kuesioner yang disusun berdasarkan enam aspek utama GDFP menurut FAO
(2011), yaitu kesehatan hewan, nutrisi, kesejahteraan hewan, kebersihan
pemerahan, lingkungan, dan manajemen sosial ekonomi. Populasi pada penelitian
ini adalah 210 peternak sapi perah dengan 34 sampel dengan teknik purposive
sampling. Teknik pengujian instrumen dilakukan dengan 2 metode yaitu expert
judgement untuk kuesioner GDFP dan uji validitas dan reliabilitas untuk kuesioner
motivasi dan pengetahuan. Variabel penelitian ini ada 6 aspek GDFP 3 aspek
motivasi ERG 1 aspek pengetahuan yaitu pada tingkat mengingat. Analisis data
disini menggunakan pengkelasan interval untuk GDFP, motivasi dan pengetahuan.
Uji T juga dilakukan untuk melihat apakah adanya perbedaan yang signifikan
setelah dan sebelum dilakukannya penyuluhan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat penerapan GDFP di Kecamatan
Karangploso tergolong sedang dengan skor total 54,8. Aspek dengan skor tertinggi
meliputi kesejahteraan hewan (16,1), kebersihan pemerahan (12,0), kesehatan
hewan (11,5), dan nutrisi (10,2), sementara aspek lingkungan (2,2) dan
manajemen sosial ekonomi (4,0) masih rendah dan sedang. Tingkat motivasi
peternak berdasarkan teori ERG berada pada kategori kurang termotivasi dengan
skor total 35,9. Penyuluhan dirancang berdasarkan prinsip ABCD dengan metode
ceramah dan diskusi, serta media berupa power point dan folder, ditujukan kepada
34 peternak. Evaluasi pre-test dan post-test menunjukkan peningkatan signifikan
pada pengetahuan dan motivasi peternak (Sig. 0,000 < 0,05), yang membuktikan
bahwa penyuluhan GDFP efektif meningkatkan pengetahuan dan motivasi
peternak. Sehingga H0 ditolak dan H1 diterima dengan arti bahwa penyuluhan
memberikan perbedaan yang signifikan terhadap motivasi dan pengatahuan
peternak sapi perah yang ada di Kecamatan Karangploso.