Abstract:
Desa Segawe, Kecamatan Pagerwojo, Kabupaten Tulungagung, merupakan salah satu sentra
peternakan sapi perah dengan populasi mencapai 2.110 ekor, yang menghasilkan limbah padat dan
cair dalam jumlah signifikan setiap harinya.Namun, pemanfaatan limbah cair, khususnya urine sapi,
masih sangat minim akibat rendahnya pengetahuan peternak mengenai potensi urine sebagai pupuk
organik cair. Akibatnya, limbah yang tidak dikelola dengan baik berpotensi menimbulkan pencemaran
lingkungan, bau tidak sedap, dan masalah. Oleh karena itu, diperlukan upaya penyuluhan mengenai
pembuatan biourine.
Tujuan Penelitian ini adalah a) mengetahui bagaimana pembuatan dan perbandingan kandungan
Biourine dengan urine sapi perah murni di Desa Segawe Kecamatan Pagerwojo, Kabupaten
Tulunggagung, b) Melaksanakan Bagaimana rancangan penyuluhan yang efektif untuk
meningkatkan pengetahuan keterampilan dan sikap peternak dalam pembuatan biourine di Desa
Segawe, Kecamatan Pagerwojo, Kabupaten Tulunggagung, dan c) Bagaimana efektifitas
penyuluhan pembuatan biourine sapi perah di Desa Segawe, Kecamatan Pagerwojo, Kabupaten
Tulunggagung. Penelitian ini dilakukan pada bulan Maret-Mei 2025. Metode penelitian ini
menggunakan metode deskriptif kuantitatif. Populasi sebanyak 768 responden, untuk menentukan
sampel menggunakan teknik acak sederhana dengan sampel akhir 35 responden.
Hasil penelitian pembuatan biourine dilakukan melalui beberapa tahapan yang sistematis untuk
menghasilkan pupuk organik cair berkualitas. menyiapkan bahan utama berupa urine sapi perah
sebanyak 20 liter yang ditampung dalam jerigen berkapasitas 30 liter. Selanjutnya, ditambahkan
bahan empon-empon seperti lengkuas, kunyit, temu ireng, jahe, kencur, dan temulawak, masingmasing sebanyak 1 kg, serta molases sebanyak 1 liter. Campuran empon-empon dan molases
kemudian dicampurkan ke dalam jerigen berisi urine sapi dan diaduk secara merata. Setelah itu,
dimasukkan starter berupa EM-4 untuk mempercepat proses fermentasi dan meningkatkan populasi
mikroorganisme menguntungkan dalam pupuk cair. Proses fermentasi berlangsung selama 21 hari,
dengan pengadukan dilakukan dua kali sehari, yaitu pada pagi dan sore hari, guna memastikan
fermentasi berlangsung secara optimal. Pada hasil analisis laboratorium yang menunjukkan bahwa
biourine yang dihasilkan dari proses fermentasi urine sapi perah memiliki kandungan unsur hara
makro yang lebih tinggi dibandingkan dengan urine sapi murni. Kandungan total unsur hara makro
(N, P₂O₅, K₂O) pada biourine mencapai 2,08%, yang berada dalam kisaran standar SNI Pupuk
Organik Cair 2019, yaitu 2–6%, Secara keseluruhan, biourine memiliki potensi yang lebih baik
dibandingkan urine sapi murni sebagai pupuk organik cair. Rancangan penyuluhan yang diterapkan
dirancang secara sistematis melalui pendekatan ABCD menggunakan metode ceramah, diskusi,
praktik langsung dan, serta media leaflet, video, dan bahan sesungguhnya. Sasaran penyuluhan
adalah peternak sapi perah di Desa Segawe. Dengan materi penyuluhan yaitu pembuatan biourine
dari urine sapi. Pelaksanaan penyuluhan dilakukan dalam dua tahap, mencakup pemberian materi
dan praktik langsung pembuatan biourine. Hasil evaluasi penyuluhan menunjukkan adanya
peningkatan yang sangat signifikan pada ketiga aspek perilaku, yaitu pengetahuan, sikap, dan
keterampilan peternak setelah dilakukan penyuluhan pembuatan biourine. Pada aspek pengetahuan,
nilai rata-rata pretest adalah 9,2 dari nilai maksimal 18, yang berada pada kategori sedang,
sedangkan setelah penyuluhan (posttest) meningkat menjadi 17,5, mendekati nilai maksimal,
sehingga masuk kategori sangat baik. Pada aspek sikap, nilai rata-rata sebelum penyuluhan adalah
26 dari nilai maksimal 50, yang dikategorikan cukup positif, namun setelah penyuluhan meningkat
menjadi 48,8, yang berarti sangat positif. Sedangkan pada aspek keterampilan, pengukuran hanya
dilakukan setelah praktik penyuluhan dengan nilai rata-rata 38,6 dari nilai maksimal 39, yang berarti
peternak hampir seluruhnya mampu mempraktikkan pembuatan biourine dengan benar. Dengan
demikian, penyuluhan yang dilaksanakan dinilai sangat efektif dalam meningkatkan pengetahuan,
sikap, dan keterampilan peternak terkait pembuatan biourine. Hasil evaluasi efektivitas penyuluhan
pembuatan biourine diukur berdasarkan empat indikator, yaitu materi, metode, media, dan
kemampuan penyuluh. Nilai maksimal keseluruhan adalah 2.100, sedangkan nilai yang diperoleh
mencapai 2.087, atau 99,38%, yang masuk kategori sangat efektif. Pelaksanaan penyuluhan tentang
pembuatan biourine yang telah dilakukan termasuk sangat efektif. Demikian pula, perubahan yang
dicapai pada askep pengetahuan dan sikap setelah penyuluhan juga termasuk sangat efektif.