RANCANGAN PENYULUHAN PEMBUATAN BIOURINE SAPI PERAH DI DESA SEGAWE KECAMATAN PAGERWOJO KABUPATEN TULUNGAGUNG

Show simple item record

dc.contributor.author Maulidiah, Rahma
dc.date.accessioned 2026-02-19T02:19:30Z
dc.date.available 2026-02-19T02:19:30Z
dc.date.issued 2025-10-20
dc.identifier.other L.310
dc.identifier.uri https://repository.polbangtanmalang.ac.id/xmlui/handle/123456789/2072
dc.description.abstract Desa Segawe, Kecamatan Pagerwojo, Kabupaten Tulungagung, merupakan salah satu sentra peternakan sapi perah dengan populasi mencapai 2.110 ekor, yang menghasilkan limbah padat dan cair dalam jumlah signifikan setiap harinya.Namun, pemanfaatan limbah cair, khususnya urine sapi, masih sangat minim akibat rendahnya pengetahuan peternak mengenai potensi urine sebagai pupuk organik cair. Akibatnya, limbah yang tidak dikelola dengan baik berpotensi menimbulkan pencemaran lingkungan, bau tidak sedap, dan masalah. Oleh karena itu, diperlukan upaya penyuluhan mengenai pembuatan biourine. Tujuan Penelitian ini adalah a) mengetahui bagaimana pembuatan dan perbandingan kandungan Biourine dengan urine sapi perah murni di Desa Segawe Kecamatan Pagerwojo, Kabupaten Tulunggagung, b) Melaksanakan Bagaimana rancangan penyuluhan yang efektif untuk meningkatkan pengetahuan keterampilan dan sikap peternak dalam pembuatan biourine di Desa Segawe, Kecamatan Pagerwojo, Kabupaten Tulunggagung, dan c) Bagaimana efektifitas penyuluhan pembuatan biourine sapi perah di Desa Segawe, Kecamatan Pagerwojo, Kabupaten Tulunggagung. Penelitian ini dilakukan pada bulan Maret-Mei 2025. Metode penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif. Populasi sebanyak 768 responden, untuk menentukan sampel menggunakan teknik acak sederhana dengan sampel akhir 35 responden. Hasil penelitian pembuatan biourine dilakukan melalui beberapa tahapan yang sistematis untuk menghasilkan pupuk organik cair berkualitas. menyiapkan bahan utama berupa urine sapi perah sebanyak 20 liter yang ditampung dalam jerigen berkapasitas 30 liter. Selanjutnya, ditambahkan bahan empon-empon seperti lengkuas, kunyit, temu ireng, jahe, kencur, dan temulawak, masingmasing sebanyak 1 kg, serta molases sebanyak 1 liter. Campuran empon-empon dan molases kemudian dicampurkan ke dalam jerigen berisi urine sapi dan diaduk secara merata. Setelah itu, dimasukkan starter berupa EM-4 untuk mempercepat proses fermentasi dan meningkatkan populasi mikroorganisme menguntungkan dalam pupuk cair. Proses fermentasi berlangsung selama 21 hari, dengan pengadukan dilakukan dua kali sehari, yaitu pada pagi dan sore hari, guna memastikan fermentasi berlangsung secara optimal. Pada hasil analisis laboratorium yang menunjukkan bahwa biourine yang dihasilkan dari proses fermentasi urine sapi perah memiliki kandungan unsur hara makro yang lebih tinggi dibandingkan dengan urine sapi murni. Kandungan total unsur hara makro (N, P₂O₅, K₂O) pada biourine mencapai 2,08%, yang berada dalam kisaran standar SNI Pupuk Organik Cair 2019, yaitu 2–6%, Secara keseluruhan, biourine memiliki potensi yang lebih baik dibandingkan urine sapi murni sebagai pupuk organik cair. Rancangan penyuluhan yang diterapkan dirancang secara sistematis melalui pendekatan ABCD menggunakan metode ceramah, diskusi, praktik langsung dan, serta media leaflet, video, dan bahan sesungguhnya. Sasaran penyuluhan adalah peternak sapi perah di Desa Segawe. Dengan materi penyuluhan yaitu pembuatan biourine dari urine sapi. Pelaksanaan penyuluhan dilakukan dalam dua tahap, mencakup pemberian materi dan praktik langsung pembuatan biourine. Hasil evaluasi penyuluhan menunjukkan adanya peningkatan yang sangat signifikan pada ketiga aspek perilaku, yaitu pengetahuan, sikap, dan keterampilan peternak setelah dilakukan penyuluhan pembuatan biourine. Pada aspek pengetahuan, nilai rata-rata pretest adalah 9,2 dari nilai maksimal 18, yang berada pada kategori sedang, sedangkan setelah penyuluhan (posttest) meningkat menjadi 17,5, mendekati nilai maksimal, sehingga masuk kategori sangat baik. Pada aspek sikap, nilai rata-rata sebelum penyuluhan adalah 26 dari nilai maksimal 50, yang dikategorikan cukup positif, namun setelah penyuluhan meningkat menjadi 48,8, yang berarti sangat positif. Sedangkan pada aspek keterampilan, pengukuran hanya dilakukan setelah praktik penyuluhan dengan nilai rata-rata 38,6 dari nilai maksimal 39, yang berarti peternak hampir seluruhnya mampu mempraktikkan pembuatan biourine dengan benar. Dengan demikian, penyuluhan yang dilaksanakan dinilai sangat efektif dalam meningkatkan pengetahuan, sikap, dan keterampilan peternak terkait pembuatan biourine. Hasil evaluasi efektivitas penyuluhan pembuatan biourine diukur berdasarkan empat indikator, yaitu materi, metode, media, dan kemampuan penyuluh. Nilai maksimal keseluruhan adalah 2.100, sedangkan nilai yang diperoleh mencapai 2.087, atau 99,38%, yang masuk kategori sangat efektif. Pelaksanaan penyuluhan tentang pembuatan biourine yang telah dilakukan termasuk sangat efektif. Demikian pula, perubahan yang dicapai pada askep pengetahuan dan sikap setelah penyuluhan juga termasuk sangat efektif. en_US
dc.publisher Polbangtan Malang en_US
dc.relation.ispartofseries Tugas Akhir;L.310-25088
dc.subject Pembuatan biourine, perilaku, penyuluhan, Kabupaten Tulungagung. en_US
dc.title RANCANGAN PENYULUHAN PEMBUATAN BIOURINE SAPI PERAH DI DESA SEGAWE KECAMATAN PAGERWOJO KABUPATEN TULUNGAGUNG en_US
dc.type Thesis en_US


Files in this item

This item appears in the following Collection(s)

  • TA 2025
    Tugas Akhir Mahasiswa Lulusan 2025

Show simple item record

Cari


Advanced Search

Browse

My Account