Abstract:
Tomat (Solanum lycopersicum L.) merupakan salah satu komoditas
hortikultura yang memiliki nilai ekonomi tinggi, namun termasuk produk yang
mudah mengalami penurunan mutu setelah panen akibat proses fisiologis seperti
respirasi, transpirasi, dan kehilangan air. Kondisi tersebut menyebabkan terjadinya
perubahan mutu fisik berupa peningkatan susut bobot, perubahan warna,
penurunan tekstur, serta berkurangnya kelayakan jual selama penyimpanan.
Salah satu teknologi pascapanen yang dapat diterapkan untuk mempertahankan
mutu buah adalah penggunaan edible coating, yaitu lapisan tipis yang aman
dikonsumsi dan berfungsi sebagai penghambat perpindahan gas serta uap air
pada permukaan buah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh
berbagai jenis edible coating berbahan sorbitol, kitosan Chitasil, dan alginat
terhadap mutu serta umur simpan buah tomat, menganalisis kelayakan finansial
penerapannya, serta mengetahui peningkatan pengetahuan petani dan pedagang
tomat melalui kegiatan diseminasi teknologi.
Penelitian dilaksanakan menggunakan metode eksperimen dengan
Rancangan Acak Kelompok (RAK) yang terdiri atas empat perlakuan, yaitu P0
(kontrol), P1 (edible coating sorbitol 20%), P2 (edible coating Chitasil/kitosan), dan
P3 (edible coating alginat). Parameter pengamatan meliputi susut bobot,
persentase buah layak jual, perubahan warna, tekstur, kadar vitamin C, umur
simpan, analisis kinerja inovasi menggunakan metode De Garmo, analisis
kelayakan finansial, serta evaluasi peningkatan pengetahuan peserta diseminasi.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan edible coating memberikan
perbedaan kemampuan dalam mempertahankan mutu buah tomat selama
penyimpanan. Perlakuan terbaik diperoleh pada P1 menggunakan sorbitol 20%
yang mampu mempertahankan mutu tomat dengan susut bobot lebih rendah serta
menghasilkan persentase buah layak jual tertinggi dibandingkan perlakuan
lainnya. Berdasarkan analisis kinerja menggunakan metode De Garmo, P1
memperoleh nilai produk tertinggi sebesar 0,8565, diikuti P2 sebesar 0,5311, P0
sebesar 0,2568, dan P3 sebesar 0,1500. Pada simulasi skala 100 kg tomat hari
ke-15, P1 mampu mempertahankan tomat layak jual sebesar 93,09 kg, lebih tinggi
dibandingkan perlakuan lainnya.
Analisis kelayakan finansial menunjukkan bahwa penerapan edible coating
pada skala usaha memiliki potensi untuk diterapkan. Perlakuan P1 sorbitol 20%
menghasilkan penerimaan dan kemampuan mempertahankan hasil layak jual
tertinggi, sedangkan P2 Chitasil menunjukkan efisiensi biaya terbaik di antara
perlakuan coating. Kegiatan diseminasi teknologi kepada 20 peserta yang terdiri
atas petani dan pedagang tomat juga menunjukkan peningkatan pengetahuan,
dengan nilai rata-rata pre-test sebesar 37,08% meningkat menjadi 91,67% pada
post-test. Nilai N-Gain sebesar 0,873 termasuk kategori tinggi dan hasil uji
Wilcoxon menunjukkan perbedaan yang signifikan (p<0,001).
Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa penggunaan
berbagai jenis edible coating mampu membantu mempertahankan mutu dan umur
simpan buah tomat. Perlakuan sorbitol 20% merupakan perlakuan terbaik karena
memberikan kinerja teknis paling tinggi dalam mempertahankan kelayakan jual
tomat.