| dc.description.abstract |
Cabai merupakan komoditas hortikultura strategis di Indonesia dengan nilai
ekonomi tinggi, namun produktivitasnya kerap terganggu oleh penyakit layu yang
disebabkan jamur Fusarium oxysporum. Di Desa Kayukebek, Kecamatan Tutur,
Kabupaten Pasuruan, pengendalian penyakit ini masih mengandalkan pestisida
kimia, sementara Trichoderma sebagai agen pengendali hayati yang lebih ramah
lingkungan belum banyak diketahui tingkat adopsinya di kalangan petani. Penelitian
ini bertujuan untuk menganalisis tingkat adopsi petani cabai terhadap penggunaan
Trichoderma, mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhinya, serta menyusun
rancangan penyuluhan untuk meningkatkan adopsi inovasi tersebut. Penelitian
menggunakan pendekatan kuantitatif dengan jenis deskriptif asosiatif terhadap 128
petani cabai yang dipilih melalui simple random sampling berdasarkan rumus Slovin
dari populasi 188 orang. Data dikumpulkan melalui kuesioner, wawancara, dan
dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan regresi linear berganda berbantuan
SPSS, mencakup uji asumsi klasik, uji T, uji F, dan koefisien determinasi. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa tingkat adopsi petani cabai terhadap Trichoderma
tergolong tinggi, dengan 113 orang (88,3%) berada pada kategori tinggi, 15 orang
(11,7%) berada pada kategori sedang, dan tidak terdapat responden pada kategori
rendah. Variabel karakteristik inovasi, dukungan penyuluhan dan informasi, serta
sistem sosial secara simultan berpengaruh signifikan terhadap tingkat adopsi
(Adjusted R Square = 0,615; F = 68,629; Sig. < 0,001). Dukungan penyuluhan dan
informasi merupakan faktor paling dominan (Beta = 0,439), diikuti sistem sosial (Beta
= 0,350) dan karakteristik inovasi (Beta = 0,141). Berdasarkan temuan tersebut,
dirancang program penyuluhan dengan sasaran utama petani kategori adopsi
sedang, materi mengenai pengenalan dan aplikasi Trichoderma serta penguatan
jaringan sosial, metode ceramah, demonstrasi cara, dan diskusi kelompok, dengan
media utama berupa booklet digital yang didistribusikan melalui WhatsApp Group
kelompok tani. |
en_US |