| dc.description.abstract |
Subsektor peternakan merupakan salah satu sektor penting dalam
pembangunan pertanian nasional, khususnya dalam penyediaan protein hewani
melalui usaha ternak sapi potong. Namun, kenyataannya di Desa Gunungsari
Kecamatan Dawarblandong Kabupaten Mojokerto, produktivitas ternak sapi
potong masih rendah. Salah satu penyebabnya adalah kasus penyakit Bovine
Ephemeral Fever (BEF) yang menurunkan nafsu makan ternak dan berdampak
pada performa produksinya. Di sisi lain, rendahnya pemahaman peternak
mengenai alternatif penanganan penyakit secara alami seperti pemanfaatan
bahan herbal untuk pembuatan jamu ternak menjadi kendala tersendiri. Kondisi ini
menunjukkan perlunya intervensi berupa kegiatan penyuluhan yang dirancang
secara tepat sasaran untuk meningkatkan kapasitas peternak.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perubahan pengetahuan, sikap,
dan keterampilan peternak setelah dilakukan penyuluhan tentang pembuatan
jamu ternak sebagai alternatif peningkat nafsu makan sapi potong pasca terjangkit
BEF. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif melalui pendekatan
pretest dan posttest kepada 23 responden anggota kelompok ternak Lembu
Makmur. Materi penyuluhan disampaikan dengan metode ceramah, diskusi, dan
demonstrasi cara, serta didukung media leaflet. Evaluasi dilakukan untuk menilai
efektivitas penyuluhan melalui instrumen kuesioner dan observasi keterampilan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kegiatan penyuluhan memberikan
dampak yang positif. Skor pengetahuan peternak meningkat dari 19% menjadi
83,5%, sikap dari 37,2% menjadi 90,2%, dan keterampilan hasil obervasi
menunjukan presentase sebesar 90,3%. Berdasarkan hasil Penyuluhan
pembuatan jamu ternak di Desa Gunungsari terbukti efektif. Dengan efektivitas
perubahan penyuluhan aspek pengetahuan meningkat dengan efektivitas 79,6%,
sikap sebesar 84,4%, dan keterampilan peternak mencapai nilai rata-rata 90,3,
yang tergolong sangat terampil. Hal ini menunjukkan bahwa penyuluhan berhasil
meningkatkan pengetahuan, sikap, dan keterampilan peternak. Dengan demikian
disimpulkan bahwa kegiatan penyuluhan yang dirancang secara sistematis dan
sesuai kebutuhan sasaran efektif dalam meningkatkan pemahaman dan
keterampilan peternak dalam pembuatan jamu ternak. Kegiatan ini diharapkan
dapat menjadi penyuluhan yang berkelanjutan dan mampu diaplikasikan oleh
peternak sebagai upaya peningkatan produktivitas usaha ternaknya. |
en_US |