| dc.description.abstract |
Permasalahan lingkungan yang muncul akibat belum optimalnya
pengelolaan limbah peternakan dan limbah rumah tangga di kawasan pedesaan.
Desa Gunungsari memiliki potensi besar dalam sektor pertanian dan peternakan,
khususnya peternakan kambing, yang menghasilkan limbah kotoran dalam jumlah
signifikan. Di sisi lain, masyarakat setempat juga menghasilkan limbah nasi dari
aktivitas konsumsi harian yang belum termanfaatkan dengan baik. Limbah-limbah
ini jika dibiarkan dapat menyebabkan pencemaran lingkungan, baik berupa bau
tidak sedap maupun potensi penyebaran penyakit. Dalam konteks ini, penelitian
dilakukan untuk mengeksplorasi potensi limbah nasi sebagai sumber
mikroorganisme lokal (MOL) berbasis karbohidrat yang dapat dimanfaatkan untuk
mempercepat proses dekomposisi kompos berbahan dasar kotoran kambing.
Penelitian ini menggunakan metode eksperimen dengan rancangan acak
lengkap (RAL) yang terdiri dari empat perlakuan, yaitu tanpa penambahan MOL
(P0) sebagai kontrol, serta tiga perlakuan dengan penambahan MOL limbah nasi
masing-masing sebanyak 1% (P1), 2% (P2), dan 3% (P3) dari total bahan kompos.
Uji laboratorium dilakukan untuk mengukur jumlah koloni jamur menggunakan
metode Total Plate Count (TPC), serta analisis kandungan hara makro nitrogen
(N), fosfor (P), dan kalium (K). Selain itu, pengamatan organoleptik juga dilakukan
untuk menilai kualitas fisik kompos berdasarkan suhu, warna, bau, dan tekstur.
Penelitian ini juga mencakup aspek kewirausahaan melalui penerapan strategi
pemasaran Mix Marketing 7P, mencakup elemen produk, harga, tempat, promosi,
proses, orang, dan bukti fisik, guna mengembangkan nilai tambah kompos sebagai
produk yang siap dipasarkan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan MOL limbah nasi secara
signifikan meningkatkan jumlah koloni jamur yang berperan aktif dalam proses
dekomposisi. Perlakuan P3 (3% MOL) menghasilkan jumlah koloni tertinggi, yakni
sebesar 8,09 x 10⁶ CFU/mL. Kompos yang dihasilkan dari perlakuan ini tidak
hanya lebih cepat matang, tetapi juga memiliki kandungan unsur hara (NPK) yang
memenuhi standar mutu berdasarkan SNI 19-7030-2004, serta kualitas fisik yang
lebih baik dibandingkan perlakuan lainnya. Hasil ini menunjukkan bahwa MOL dari
limbah nasi efektif sebagai dekomposer alami yang murah dan mudah dibuat,
serta dapat menjadi alternatif pengganti dekomposer komersial. Pemanfaatan
Mikroorganisme Lokal dari limbah nasi terbukti memberikan kontribusi positif
dalam pengolahan limbah peternakan, menghasilkan kompos berkualitas tinggi,
dan mendukung prinsip pertanian berkelanjutan. Selain manfaat agronomis,
inovasi ini juga memiliki nilai ekonomis dan sosial, karena mampu meningkatkan
pendapatan masyarakat melalui pengelolaan limbah yang bernilai jual. Dengan
penerapan strategi pemasaran yang tepat, kompos hasil penelitian ini berpotensi
untuk dikembangkan sebagai produk unggulan lokal yang ramah lingkungan dan
mendukung ketahanan pangan berbasis sumber daya lokal. |
en_US |